Jerawat Bukan Monopoli Remaja


Sari (30) diliputi rasa tak percaya diri dalam beberapa pekan terakhir ini. Apalagi saat ia harus bertatap muka dengan para relasi terkait pekerjaannya. Padahal, karyawati swasta yang masih lajang ini biasanya tidak pernah grogi atau minder ketika bertemu dengan banyak orang meski baru dikenal.

Rasa tidak percaya diri itu ternyata berpangkal dari bermunculannya banyak jerawat menghiasi wajahnya yang biasanya mulus. Jerawat itu mulai timbul sepulang dari negeri kanguru. Ia menduga, itu karena makanan yang dikonsumsi di Australia kebanyakan berkadar lemak tinggi dan perbedaan suhu udara dengan Indonesia. Nggak nyangka, sudah nggak remaja lagi kok ya masih berjerawat, ujarnya.

Selama ini, salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat seputar jerawat adalah, masalah kulit ini dianggap sebagai penyakit remaja yang nantinya akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia seseorang. Ada juga anggapan bahwa jerawat hanya masalah kosmetik, makanan, stres, kebersihan yang kurang baik, pengaruh make-up, dan merupakan masalah kulit yang bisa disembuhkan.

Menurut dokter spesialis penyakit kulit Srie Prihianti dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dalam seminar kulit bertema Your Healthy Skin, Your Confidence , Sabtu (19/7), di aula FKUI, Jakarta, jerawat merupakan peradangan pada unit pilosebaseus yang ditandai gejala klinis seperti komedo dan nodus.

Sekitar 85 persen dari total jumlah orang yang mengalami masalah jerawat berusia 12-25 tahun. Sedangkan 15 persen mengalami masalah jerawat sampai dengan usia 35 tahun. Bahkan, ada yang jerawatnya tid ak bisa teratasi atau terus bermunculan hingga usia 40 tahun. Jadi, mitos bahwa remaja merupakan penyakit remaja adalah tidak benar, kata Srie Prihianti.

Masalah jerawat sebenarnya disebabkan multifaktorial, tidak hanya satu penyebab. Ada empat patogenesis utama jerawat yaitu hiperproliferasi folikuler, peningkatan produksi sebum, inflamasi, proliferasi. Jenis kulit yang dimiliki seseorang juga berpengaruh terhadap kemungkinan munculnya jerawat, terutama kulit berminyak.

Jerawat atau acne itu ada dua golongan. Yang pertama adalah, inflamasi yaitu jerawat yang disertai dengan peradangan berbentuk kemerahan dan berbinti, kata Srie Prihianti. Sementara golongan lain adalah reaksi non inflamasi dari saluran kelenjar minyak. Hal ini ditandai dengan sumbatan pori atau komedo yang terdiri dari komedo terbuka (black comedo) dan komedo tertutup (white comedo).

Jika didiagnosis, ada beberapa derajat keparahan jerawat. Pada derajat ringan, jerawat ditandai oleh adanya komedo dengan jumlah kurang dari 20 atau lesi inflamasi kurang dari 15. Pada derajat sedang, komedo berjumlah antara 20-100 atau lesi inflamasi 15-20. Sedangkan pada derajat berat, jumlah kista lebih dari lima atau komedo berjumlah lebih dari seratus, bisa juga ditandia oleh adanya lesi inflamasi lebih dari 50.

Untuk mengatasi masalah jerawat, Srie menyarankan agar penderitanya menjalani pengobatan dengan tujuan mengontrol jerawat dan mencegah terjadinya jaringan parut atau scar. Pengobatan ini bisa memperbaiki gangguan pola keratinisasi folikuler, menurunkan aktivitas gid, sebasea, menurunkan populasi jerawat, dan mempunya efek anti inflamasi atau peradangan, ujarnya.

Pengobatan dengan retinoid ada dua jenis yaitu secara oral berupa isotretinoin dan topikal berupa tretinoin berupa krim, gel dan sol. Sedangkan obat antibiotika juga diberikan dala m bentuk oral (tetrasiklin, klindamisin, eritromisin, azitromisin), dan topikal (klindamisin, eritromisin dan kombinasi). Jenis pengobatan lain adalah azaleic acid berupa krim dan gel, serta benzoyl peroxide (cuci muka, gel dan sol).

Alternatif terapi lain untuk mengatasi jerawat adalah kontrasepsi oral, anti-androgen, kortikosteroid dan laser. Laser digunakan untuk mengobati jerawat derajat sedang melalui sinar biru. Sekarang telah ada kontrasepsi oral di pasaran yang memiliki manfaat tambahan antara lain mengatasi masalah jerawat sehi ngga kulit jadi lebih mulus, kata Srie menambahkan.

Namun, ada beberapa efek samping pengobatan jerawat yang perlu diwaspadai. Pada pengobatan dengan retinoid, misalnya, terjadi kekeringan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan hepatotoksisitas. Sedangkan penggunaan obat antibiotik bisa menimbulkan pigmentasi biru kehitaman, fotosensitivitas dan resistensi jerawat terhadap obat. Beberapa jenis obat lain menimbulkan efek samping berupa iritasi pada kulit.

Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya jerawat, yang terpenting adalah pemeliharaan kulit secara teratur, ujarnya menegaskan. Pemeliharaan kulit itu antara lain menggunakan gentle cleansing, pembersih yang mengandung obat-obatan anti jerawat, membersihkan kulit terutama bagian wajah secara teratur, dan menjalani pengobatan secara berkelanjutan dan menindaklanjutinya secara teratur.

Advertisements